“Ada gula ada semut”

[HMPPI KOMODITAS]

“Ada gula ada semut”

Oleh: Fajar Hidayat

 

kok? Karena gula itu manis, kaya kamu~

Yap! komoditas kali ini akan membahas tentang Gula :))

Gula. Jika orang-orang diberikan waktu 2 detik untuk menyebut sebuah kata yang terlintas ketika mendengar kata gula maka 99% dari mereka termasuk kamu mungkin akan menjawab “manis” setuju? wkwk

Gula pasir sangat lazim digunakan sebagai pengkaya rasa pada makanan atau minuman. Karbohidrat berantai pendek ini mampu memberikan sensasi manis ketika bersentuhan dengan lidah.

Meski mengalami penurunan produksi, gula masih menjadi komoditi ekspor unggulan Indonesia yang umum diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat.

Bersaing pasar dengan negara-negara beriklim tropis lainnya seperti Malaysia dan Vietnam, Indonesia pernah menjadi salah satu produsen dan eksportir gula terbesar dunia loh.

Namun ironisnya Indonesia kini malah melakukan impor gula dengan jumlah yang terus meningkat sejak tahun 2013. Situasi ini dikarenakan produksi dan kualitas gula di Indonesia akhir-akhir ini mengalami penurunan.

Penyebab utama turunnya produksi gula pasir yaitu penurunan rendemen tebu hingga ke level 7% pada tahun 2015. Hal ini diakibatkan cuaca kemarau basah yang terjadi hampir sepanjang tahun.

Rendemen tebu yaitu kadar kandungan gula di dalam batang tebu yang dinyatakan dengan persen. Bila dikatakan rendemen tebu adalah 7% maka dari 100 kilogram tebu yang digiling, hanya mampu diperoleh 7 kilogram gula kristal putih.

Selain penurunan rendemen tebu penurunan luas tanam tebu yang mencapai 10.000 hektare di tahun 2015 juga menjadi sumbangsih penyebab penurunan produksi gula pasir lokal.

Selain disebabkan kekeringan berkepanjangan pada tahun 2016 di berbagai daerah di Indonesia yang membuat petani-petani memilih bertanam komoditas lain seperti sawit juga dikarenakan alih fungsi lahan tebu menjadi perumahan padat penduduk.

Lalu bagaimana gula pasir bisa diperoleh? Ternyata tidak semudah yang dibayangkan loh~
Nira tebu sebagai bahan mentah gula pasir perlu mengalami serentetan proses hingga menjadi gula pasir. Mulai dari ekstraksi, pemurnian, evaporasi, hingga kristalisasi.

Selain manis gula juga lekat dihubungkan dengan penyakit degeneratif diabetes atau kencing manis.
Pola makan yang salah menyumbang hingga 70% potensi seseorang terserang diabetes. Penderita diabetes umumnya akan mengalami gangguan-gangguan organ dan fungsi tubuh seperti obesitas, gangguan pada pembuluh darah yang dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, kebutaan, hingga gagal ginjal. Komplikasi penyakit turunan diabetes ini justru memberikan andil lebih besar seseorang mengalami kematian dibandingkan penyakit diabetes itu sendiri. Wah ngeri ga tuh?

Oleh karena itu mari lebih memperhatikan konsumsi gula kita😊
“… makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al A’raf 7:31)

 

Sumber: Antaranews, kompas.com, kompasiana.com, wikipedia.id

#Komoditas
#HMPPImenulis
#PeduliNyataBerkelanjutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *